Inikah wajah pendidikan kita?

Ujian Nasional telah usai dilaksanakan. Dengan segala carut marutnya, toh pelaksanaan UAN dianggap sukses, walau bila dicermati lebih dalam, akan membuat kita mengelus dada. Inikah cermin pendidikan kita? Inikah pendidikan yang digadang-gadang dapat melahirkan generasi muda yang tangguh dan “bersih”? Inikah pendidikan yang diimpikan untuk memunculkan pemimpin-pemimpin masa depan yang bebas dari KKN? Tak heran bila korupsi tetap akan merajalela sampai beberapa puluh tahun ke depan.

Tapi, kita tidak perlu pesimis, masih ada harapan asal ada kemauan dan tekad untuk terus menerus memperbaiki diri. Diperlukan keberanian untuk mengubah paradigma pendidikan di Indonesia. Ya keberanian, diawali dengan keberanian melihat dan mengakui bahwa pendidikan kita masih jauh terperosok dalam belenggu ketidak jujuran, kemalasan, ketidak pedulian, dan kebodohan. Lalu keberanian untuk bertindak dan mengubah sehingga kita dapat terbebas dari belenggu yang membuat kita akan tetap dalam kebodohan, kemalasan, ketidak jujuran. Beranikah kita? siapa yang harus mulai?

Siapa yang harus mulai? Mulailah dari diri sendiri, jangan berharap para pejabat di tataran paling atas bisa dengan legawa mengakuinya dan mulai pembaharuan. Mulailah dari diri sendiri. Mulailah dari yang paling kecil. Mulailah mempengaruhi teman, orang-orang di sekitar anda. Mulailah dari diri sendiri untuk menjadi terang, untuk menjadi garam. Bila anda berkeputusan untuk mulai, maka lihatlah akan ada perubahan.

Mungkinkah?

Siapkan Format Baru UN 2011

Sarankan Kembali ke Ebtanas

Setelah Komisi X DPR-RI memutuskan untuk melaksanakan ujian nasional (UN), para wakil rakyat berjanji akan membenahi sistem ujian tersebut tahun depan. Format baru UN bakal dirumuskan. Masukan dari berbagai pakar pendidikan bakal dipertimbangkan.
Ketua Panja UN Rully Chairul Azwar mengatakan, Komisi X memang sudah sepakat agar UN jalan terus. Demikian pula dengan pencairan anggaran. Kendati demikian, Komisi X akan membuat rumusan baru ujian tersebut. “Terutama, mengubah metodologi yang ada. Sehingga tidak ada lagi polemik yang berlangsung dari tahun ke tahun,” terangnya.
Komisi X juga akan meninjau kembali PP nomor 19/2005 tentang standarisasi nasional pendidikan (SNP). Terutama, pada pasal 66 hingga 73 tentang pelaksanaan UN. Sebab, pasal-pasal tersebut dinilai bertentangan dengan UU 32/2002 tentang sistem pendidikan nasional. “Karena itu, panja UN akan diteruskan untuk mengkaji kembali ujian tersebut. Sehingga, tahun depan sistem yang baru sudah siap,” jelasnya.
Komisi X juga akan membantu Kementrian Pendidikan Nasional (Kemendiknas) dalam pengawasan. Juga memperbaiki pelaksanaan UN sebelum berlangsung secara serentak pada 22 Maret mendatang. Anggota Fraksi Partai Golkar (FPG) itu juga meminta komitmen kepala daerah untuk menjaga agar pelaksanaan UN jujur dan kredibel.
Sementara itu, Menkominfo Tifatul Sembiring mengatakan akan mensupport Kemendiknas dalam melaksanakan UN. Dia mengatakan, UN terbukti mendongkrak nilai siswa. “Dari tahun ke tahun ada perbaikan. Persentase kelulusan cukup tinggi. Apalagi, tahun ini pemerintah memberi kesempatan siswa yang tidak lulus untuk mengikuti ujian ulang,” terang Tifatul usai membuka diskusi publik penyelenggaraan ujian nasional di Hotel Sahid Jaya, kemarin.
Tifatul mengatakan, UN mengajarkan siswa memiliki jiwa kompetitif. Karena itu, Kemenkominfo berjanji meningkatkan akses informasi di bidang pendidikan. Yaitu, dengan memasang internet di semua SD pada 2014. Sebagaimana diketahui, MA memberi kesempatan terhadap pemerintah untuk menggelar UN dengan catatan ada peningkatan terhadap akses informasi pendidikan. Karena itu, Kementriannya berjanji akan merealisasikan tuntutan itu.
Pakar Pendidikan Darmaningtyas dalam diskusi itu mengungkapkan pendapatnya bahwa evaluasi terhadap anak didik sebaiknya dikembalikan pada model Ebtanas dan Ebta. “Karena itu menjawab dua kebutuhan sekaligus. Ebta menjawab otonomi guru dalam menilai siswanya. Yang ebtanas memenuhi standar pendidikan nasional,” ujarnya.
Menurutnya, selama 17 tahun ebtanas dilangsungkan, relatif tidak ada persoalan yang krusial di lapangan. Berbeda dengan UN yang dinilai banyak memunculkan persoalan. “Para pejabat jangan menyamakan dengan ujian negara. Banyak yang tidak lulus nggak papa,” ujarnya.
Persoalannya, kata Darmaningtyas, dulu bersekolah tidak mengeluarkan banyak biaya. Seperti, pengeluaran untuk buku tulis, sepati, seragam dan sebagainya. “Artinya apa? Berbeda dengan kondisi sekarang. Kalau tidak lulus UN, akan semakin menambah beban siswa. Juga berpengaruh terhadap psikologisnya,” ungkap dia.
Karena itu, dia menyarankan agar Kemendiknas lebih terbuka terhadap berbagai masukan. Terutama, untuk merevisi PP 19 /2005 yang dianggap bertentangan dengan UU Sisdiknas. Dalam UU Sisdiknas disebutkan, masyarakat dan organisasi profesi untuk melakukan evaluasi. Dengan begitu, evaluasi tidak didominasi negara. “Artinya, UN bisa dilakukan tak hanya pemerintah. Sama seperti TOEFL bisa diselenggarakan berbagai lembaga, skornya ya itu, sudah fix. Standarnya yang harus disamakan,” terangnya.
Ketua PGRI Sulistyo menambahkan, mau tak mau kebijakan baru UN harus segera dilakukan untuk 2011. Model UN saat ini dinilai memberi peluang sekolah dan siswa untuk berbuat kecurangan. “Pemerintah tak dapat menafikan hal itu. Karena itu, harus ada perbaikan model ujian itu secara menyeluruh,” tuturnya.
Kepala Balitbang Kemendiknas Mansyur Ramli mengatakan, pemerintah berjanji mempertimbangkan berbagai masukan. “Karena ini memang sangat penting bagi kami untuk memperbaiki sistem yang ada. Untuk itulah diskusi ini dilakukan,” terangnya. Mansyur menjelaskan, pemerintah menyadari bahwa penyempurnaan ujian tersebut harus dilakukan. “Evaluasi akan dilakukan secara menyeluruh. Baik terkait pelaksanaan maupun metodologi,” ujarnya.(kit)

Sumatera Ekspres.

Tugas Matematika

Silahkan unduh soal Tugas matematika untuk siswa kelas 8A, 8B serta 9A dan 9B dengan mengklik link berikut:

tugas matematika kelas 8

tugas matematika kelas 9

Setelah link di atas diklik, akan dibukakan halaman 4shared, klik Unduh sekarang, tunggu beberapa detik, kemudian klik  Unduh file sekarang.

Nah file yang telah diunduh dapat dicetak atau langsung dibaca di komputer. Jika mengalami kesulitan, jangan segan bertanya  kepada petugas Warnet..OK.

bagi yang sudah mengunduh dapat memberi  komentar di bagian bawah dengan mengklik Tinggalkan sebuah komentar..tuliskan komentar dan klik kirim komentar.

Selamat berlibur dan selamat mengerjakan tugas

Selamat Idul Fitri…..

Alternative Strategies to Teach Mathematics

As a  teacher of Junior high school mathematics, I understand the day-to-day frustrations that any teacher might experience, particularly when trying to teach a subject like mathematics. The first day of class was always interesting. As teacher, I felt like the enemy who was bringing messages of death and despair to the students. I could see in many of their faces how dreaded a subject this truly was. But I would win them over. Yes, one by one I would quench their fear and instill new hope. Baca lebih lanjut

Mencintai Budaya Bangsa

Ketika Malaysia melakukan klaim-klaim sepihak terhadap seni budaya yang kita akui sebagai budaya warisan bangsa Indonesia, banyak di antara kita yang terusik rasa nasionalismenya, dan kemudian banyak yang melakukan aksi-aksi yang pada intinya menentang klaim Malaysia. Dari yang sekedar gerakan moral sampai yang extrem dengan melakukan sweeping warga Malaysia.

Terlepas dari benar tidaknya gerakan yang dilakukan oleh warga Indonesia tersebut, hal ini menunjukkan rasa cinta budaya yang sangat tinggi, sehingga tidak rela jika warisan budaya bangsa di akui sebagai milik orang lain.
Namun pertanyaannya, tindakan apakah yang pernah kita lakukan untuk melestarikan budaya bangsa ini? sudahkah kita benar-benar mencintai dan berusaha melestarikannya?
Jangan-jangan kita hanya bisa berkoar-koar menolak klaim-klaim Malaysia, namun tidak pernah melakukan tindakan nyata dalam melestarikannya.
Baca lebih lanjut